Apa artinya saat itu
Yakobus menulis kepada orang-orang percaya yang tersebar di perantauan dan sedang menghadapi berbagai ujian (Yakobus 1:1–4). Tepat sebelum bagian ini, ia berkata bahwa pencobaan tumbuh dari keinginan kita sendiri, bukan dari Allah, dan bahwa setiap pemberian yang baik datang dari Bapa, yang berkenan melahirkan kita kembali melalui firman kebenaran (1:13–18). Jadi, “cepat untuk mendengar” bisa mengarah ke dua sisi: kepada orang di hadapan kita dan kepada firman yang telah Allah tanamkan di dalam kita. Sesudahnya, Yakobus menggambarkan orang yang bercermin lalu segera lupa seperti apa rupanya (1:23–24).
Untuk hari ini
Kebanyakan dari kita mendengarkan sambil menyiapkan jawaban. Orang lain masih berbicara, tetapi kita sudah menemukan kesalahannya, menyusun balasan, dan mulai merasa panas. Yakobus memberi urutan yang sulit dijalani: cepat mendengar, lambat berbicara, lambat marah. Bukan tidak pernah marah, tetapi lambat.
Ia tidak memintamu diam saja atau menyetujui segala hal. Amarah tidak dilarang di sini, tetapi Yakobus berterus terang: amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran Allah (1:20). Bagi Yakobus, mendengar juga tidak berhenti di telinga. Kamu bisa mendengar khotbah dari awal sampai akhir, mengangguk di setiap poin, lalu pulang tanpa berubah sedikit pun. Ia menyebut itu menipu diri sendiri (1:22). Mendengar yang sungguh-sungguh membiarkan firman masuk cukup dalam untuk mengubah apa yang kamu lakukan sesudahnya.
Bayangkan meja makan malam ini, telepon dengan ibumu, atau rapat ketika seseorang mengkritik pekerjaanmu. Cobalah sekali saja: biarkan ia selesai berbicara. Lalu ulangi apa yang kamu dengar sebelum kamu menyampaikan pendapatmu. Rasanya akan lambat, bahkan mungkin terasa merendahkan diri, karena jawabanmu sudah di ujung lidah. Namun, itu bisa mengubah seluruh percakapan, dan bisa juga mengubah dirimu.
Doa
Tuhan, Engkau mendengarku bahkan sebelum aku menemukan kata-kata, tetapi aku sering memotong pembicaraan orang lain di dalam kepalaku. Jadikanlah aku cepat mendengar dan lambat berbicara. Ketika amarah naik, perlambatlah aku, sebab amarahku tidak mengerjakan kebenaran-Mu. Tanamkanlah firman-Mu dalam-dalam di hatiku, dan berilah aku kerendahan hati untuk menerimanya. Jangan biarkan aku hanya menjadi pendengar, yang tersentuh sesaat lalu tidak berubah. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.
Coba hari ini
Dalam satu percakapan hari ini, biarkan lawan bicaramu selesai berbicara sepenuhnya, lalu ulangi dalam satu kalimat apa yang kamu dengar sebelum memberi jawabanmu.
Renungkan
Ketika seseorang mengkritikmu, apa yang biasanya kamu lakukan lebih dulu: membela diri, diam, atau sungguh-sungguh mendengarkan, dan mengapa?
Jawablah dengan jujur, di buku catatanmu atau bersama seorang teman hari ini.