JumatOktober 2026Renungan harian · ±5 menit

Ceritakan rasa hausmu kepada Tuhan.

1Ya Allah, Engkau adalah Allahku; aku mencari Engkau dengan sungguh-sungguh. jiwaku haus akan Engkau, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus tanpa air. 2Aku telah melihat-Mu di tempat kudus, dan menyaksikan kuasa dan keagungan-Mu. 3Sebab, kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup, bibirku akan memuji-Mu. 4Dengan demikian, aku akan memuji-Mu selama hidupku, dan dalam nama-Mu aku akan mengangkat tanganku. 5Jiwaku dipuaskan seperti dengan lemak dan sumsum, dan mulutku akan memuji-Mu dengan bibir yang bersorak-sorai.
Mazmur 63:1–5 · Alkitab Yang Terbuka (AYT)Baca seluruh pasal ↗

Apa artinya saat itu

Judul mazmur ini menempatkan Daud di padang gurun Yehuda, daerah perbukitan kering yang menurun dari Yerusalem ke arah Laut Mati. Daud mengenal daerah itu sebagai orang yang sedang melarikan diri, pertama dari Raja Saul (1 Samuel 23:14), kemudian dari Absalom, anaknya sendiri (2 Samuel 15:23); judulnya tidak menyebut peristiwa yang mana. Jauh dari tempat kudus, ia teringat saat melihat kuasa dan keagungan Allah di sana (63:2). Kata yang diterjemahkan “kasih setia” adalah hesed, kasih yang setia yang telah Allah ikrarkan kepada umat-Nya.

Untuk hari ini

Kerinduan bukanlah lawan dari iman. Daud memulai dengan “Engkau adalah Allahku”, dan dalam tarikan napas yang sama berkata, “jiwaku haus akan Engkau”. Ia tidak menunggu sampai merasa dekat dengan Allah baru berdoa. Ia berdoa dari tempat yang kering, dan ia menyebutnya apa adanya: kering, tandus, tanpa air. Rasa haus itu sendiri menjadi doanya.

Perhatikan apa yang tidak diceritakan mazmur ini. Padang gurun itu tidak berubah menjadi hijau, tidak ada pertolongan yang datang, tidak ada yang berubah di sekitarnya. Namun, di ayat 5 jiwanya “dipuaskan seperti dengan lemak dan sumsum”. Yang berubah adalah apa yang ia pegang: kasih setia Allah, yang ia sebut lebih baik daripada hidup. Itu pernyataan yang berani, dan juga jujur. Ia tidak berkata bahwa hidup tidak penting. Ia berkata bahwa hidup pun, dengan segala pemberiannya yang baik, bukanlah hal terdalam yang ia dambakan.

Mungkin kamu mengenal perasaan itu walau sulit mengungkapkannya: jam-jam gelisah sepulang kerja ketika kamu membuka kulkas, lalu ponsel, lalu aplikasi belanja, dan tak satu pun memuaskan. Atau masa ketika gereja dulu terasa hidup dan kini terasa kering. Jangan sembunyikan itu dari Tuhan di balik doa yang sopan. Sebutkan dengan jujur, seperti Daud, dan biarkan rasa haus itu membawamu kepada-Nya.

Doa

Ya Allah, Engkau adalah Allahku, namun aku masih haus. Ada hari-hari ketika hatiku seperti tanah yang kering, dan aku mengisi kekosongan itu dengan kebisingan dan barang-barang. Aku ingat saat-saat Engkau terasa begitu dekat; aku merindukannya, dan aku mengakuinya kepada-Mu. Ajarlah aku bahwa kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup. Puaskanlah aku dengan diri-Mu sendiri, dan biarlah bibirku memuji-Mu, bahkan di sini. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.

Coba hari ini

Tuliskan satu kalimat yang dimulai dengan “Tuhan, aku rindu…”, dan saat berikutnya kamu meraih ponsel karena gelisah hari ini, bacalah kalimat itu sebagai gantinya.

Renungkan

Apa yang biasanya kamu raih ketika merasa hampa, dan menurutmu, sebenarnya kamu haus akan apa di balik semua itu?

Jawablah dengan jujur, di buku catatanmu atau bersama seorang teman hari ini.

Ayat: Alkitab Yang Terbuka (AYT) © YLSA, dipakai untuk tujuan nonkomersial. Renungan dan doa: Bible Daybook.