Apa artinya saat itu
Di Gunung Karmel, TUHAN telah menjawab doa Elia dengan api, dan nabi-nabi Baal dibunuh (1 Raja-raja 18:36–40). Ketika Ratu Izebel mendengarnya, ia bersumpah akan mencabut nyawa Elia dalam waktu sehari (19:1–2). Elia melarikan diri, duduk di bawah sebatang pohon di padang gurun, dan meminta mati (19:3–4). Seorang malaikat dua kali membangunkannya untuk makan, lalu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam ke Horeb, gunung Allah, tempat Allah dahulu menjumpai Musa (19:5–8; Keluaran 3:1). Di sana, berminggu-minggu setelah peristiwa di Karmel, ia masuk ke sebuah gua untuk bermalam.
Untuk hari ini
Elia tahu Allah sanggup menjawab dengan api; ia sudah melihatnya sendiri di Karmel. Di Horeb, angin besar membelah gunung-gunung, bumi berguncang, api lewat, dan setiap kali Alkitab mencatat hal yang sama: TUHAN tidak ada di dalamnya. Lalu datanglah suara bisikan yang lembut, dan Elia menyelubungi wajahnya dengan jubahnya. Allah sudah datang mendekat, dan ia tahu itu.
Ini tidak berarti Allah hanya hadir dalam keheningan, atau bahwa saat-saat yang dahsyat itu palsu; di Karmel Ia hadir dalam api. Suara lembut itu pun tidak membuat Izebel lenyap. Yang menyusul justru pertanyaan yang sama seperti sebelumnya: “Apakah yang kamu lakukan di sini, hai Elia?” Elia memberi jawaban yang persis sama (19:14). Keheningan itu tidak langsung memulihkannya. Namun, Allah tidak membiarkannya tinggal di gua. Ia mengutus Elia kembali dengan tugas baru dan memberitahunya bahwa ia bukan satu-satunya yang tetap setia (19:15–18).
Mungkin kamu sedang menunggu sesuatu yang besar: tanda, terobosan, atau perasaan yang cukup kuat untuk menenggelamkan rasa takutmu. Sementara itu, hari-harimu penuh kebisingan: ponsel tengah malam, berita, pertengkaran yang terus terulang di kepala. Matikan sebagian. Tinggallah dalam keheningan cukup lama untuk mendengar pertanyaan yang selama ini kamu hindari, lalu jawablah dengan jujur.
Doa
Ya Tuhan, Engkau tahu gua-gua tempat aku bersembunyi ketika aku lelah, takut, dan merasa sendirian. Engkau tidak membentak Elia; Engkau memberinya makan, membiarkannya tidur, dan mendekat dalam keheningan. Dekatilah aku seperti itu juga. Tenangkan kebisingan di sekitarku dan di dalam hatiku, dan ketika Engkau bertanya apa yang kulakukan di sini, berilah aku keberanian untuk menjawab dengan jujur. Lalu utuslah aku kembali dan tunjukkan langkah berikutnya. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.
Coba hari ini
Malam ini, taruh ponselmu di ruangan lain selama dua puluh menit, duduklah dalam keheningan, dan tuliskan satu kalimat jujur untuk menjawab: “Apa yang sedang kulakukan di sini?”
Renungkan
Seandainya hari ini Tuhan bertanya kepadamu, “Apakah yang kamu lakukan di sini?”, apa jawaban jujurmu?
Jawablah dengan jujur, di buku catatanmu atau bersama seorang teman hari ini.