Apa artinya saat itu
Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa datang untuk mendengarkan Yesus, dan orang-orang Farisi serta ahli Taurat bersungut-sungut karena Ia menerima orang berdosa dan makan bersama mereka (Lukas 15:1–2). Yesus menjawab dengan tiga cerita tentang yang hilang: seekor domba, sekeping uang perak, dan seorang anak (15:3–32). Dalam cerita ketiga, si bungsu meminta bagian warisannya, menghabiskannya di negeri yang jauh, dan ketika bencana kelaparan datang, ia bekerja menjaga babi, binatang yang najis menurut hukum Musa (Imamat 11:7). Ia begitu lapar sampai ingin makan makanan babi itu (15:11–16).
Untuk hari ini
Si bungsu pulang dengan membawa pidato. Ia sudah menyiapkannya sejak masih menjaga babi: aku sudah berdosa, aku tidak pantas, jadikan aku salah seorang pekerjamu (15:18–19). Kata-kata itu jujur, tetapi juga sebuah rencana: kalau tidak bisa lagi menjadi anak, mungkin ia bisa mendapat tempat di belakang rumah dengan bekerja. Lalu ayahnya melihatnya dari kejauhan dan berlari.
Lihat apa yang terjadi dengan pidatonya. Ia mulai mengucapkannya, tetapi tidak pernah sampai ke kalimat terakhir, yaitu permintaan untuk dijadikan pekerja (15:21). Ayahnya sudah lebih dulu menyuruh pelayan membawa jubah, cincin, dan sandal. Cerita ini tidak mengatakan bahwa motif si bungsu murni; ia pulang karena lapar. Cerita ini juga tidak membuat pengakuannya sia-sia; ia mengucapkannya, dan itu benar. Namun, sambutan ayahnya bukan hadiah untuk pidato yang bagus. Ayahnya sudah melihatnya ketika ia masih sangat jauh, sebelum ia mengucapkan sepatah kata pun.
Mungkin kamu juga sedang melatih pidatomu sendiri: kepada Tuhan setelah bertahun-tahun menjauh, atau kepada orang yang pernah kamu lukai, sambil berdiri di depan pagar rumahnya dan mengulang kata-kata itu sekali lagi. Katakan apa yang benar, dan jangan menunggu sampai terdengar sempurna. Si bungsu bangkit dan pergi, dalam keadaan lapar dan tanpa persiapan yang rapi. Itu sudah cukup bagi ayahnya untuk mulai berlari.
Doa
Bapa, Engkau tahu pidato yang terus kulatih, kata-kata yang kuharap membuatku layak diterima. Aku sudah berdosa terhadap surga dan di hadapan-Mu, dan aku tidak mau berpura-pura tidak. Terima kasih karena Engkau melihatku selagi aku masih jauh, karena belas kasihan-Mu berlari mendahului permintaan maafku. Berilah aku keberanian untuk bangkit dan pulang hari ini. Kenakanlah kepadaku sambutan-Mu, bukan usahaku sendiri, dan ajarlah aku menyambut orang lain dengan cara yang sama. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.
Coba hari ini
Tuliskan permintaan maaf yang selama ini kamu tunda, kepada Tuhan atau kepada seseorang, dalam tiga kalimat saja, lalu ucapkan atau kirimkan sebelum malam tiba.
Renungkan
Mana yang lebih sulit bagimu: mengatakan “aku salah”, atau percaya bahwa kamu sungguh diterima setelah mengatakannya?
Jawablah dengan jujur, di buku catatanmu atau bersama seorang teman hari ini.