Apa artinya saat itu
Surat Ibrani ditulis kepada orang-orang percaya yang dahulu tetap teguh ketika dihina di depan umum, ketika berbelaskasihan kepada orang-orang yang dipenjara, dan ketika harta mereka dirampas (Ibrani 10:32–34). Kini mereka mulai lelah dan terancam hanyut menjauh (2:1; 10:35–36). Pasal 11 baru saja menelusuri orang-orang beriman dalam Perjanjian Lama, dari Habel dan Nuh sampai Abraham, Musa, dan Rahab, yang percaya kepada Allah walaupun belum menerima apa yang dijanjikan (11:39). Kini penulis menjadikan nama-nama itu kerumunan di sekeliling sebuah perlombaan: letakkan bebanmu, teruslah berlari, dan pandanglah Yesus.
Untuk hari ini
Akhir pekan ini banyak gereja mengenang para orang kudus, dan bagian ini menunjukkan siapa kerumunan itu. Mereka bukan barisan orang sempurna. Pasal 11 menyebut Yakub, Simson, dan Rahab, orang-orang yang kisahnya punya bab-bab yang kelam. Hidup mereka bersaksi bahwa Allah dapat dipercaya sepanjang jalan yang panjang.
Perhatikan apa yang tidak dikatakan di sini. Tidak dikatakan bahwa perlombaannya singkat, atau bahwa merasa lelah berarti kamu gagal. Kelelahan justru sudah diperhitungkan; karena itulah ada ayat 3. Kamu juga tidak disuruh mengawasi dirimu sendiri, kecepatanmu, atau pelari di depanmu. Kamu diajak memandang Yesus, yang menanggung salib, mengabaikan kehinaannya, dan menyelesaikan perlombaan-Nya.
Mungkin perlombaanmu sekarang adalah bertahun-tahun merawat seseorang, pernikahan yang sedang melewati masa sulit, atau iman yang terasa tipis. Sebagian yang memperlambatmu adalah dosa, dan sebagian lagi hanyalah beban: dendam, ponsel yang tak bisa kamu lepaskan, atau “ya” yang seharusnya “tidak”. Sebutkan satu hal yang mau kamu letakkan hari ini. Lalu ambillah langkah berikutnya, bukan seluruh jalan sekaligus.
Doa
Tuhan Yesus, Engkau tahu betapa lelahnya aku di jalan ini, dan betapa sering aku memandang semua orang kecuali Engkau. Terima kasih untuk mereka yang sudah berlari mendahuluiku dan tetap percaya ketika janji-Mu masih jauh. Tunjukkan beban yang bisa kuletakkan hari ini dan dosa yang terus menjegal langkahku. Ketika aku ingin berhenti, arahkan mataku kepada-Mu, yang menanggung salib dan menyelesaikan perlombaan-Mu. Berilah aku kekuatan untuk langkah berikutnya. Dalam nama-Mu aku berdoa. Amin.
Coba hari ini
Sebelum malam, sebutkan satu beban yang memperlambatmu, tuliskan di selembar kertas, lalu ambil satu langkah kecil untuk meletakkannya: sebuah pesan, aplikasi yang dihapus, atau “tidak” yang jujur.
Renungkan
Apa yang lebih memperlambatmu sekarang: dosa yang sudah kamu sadari, atau beban yang sebenarnya tidak salah tetapi terlalu berat untuk dipikul?
Jawablah dengan jujur, di buku catatanmu atau bersama seorang teman hari ini.