Apa artinya saat itu
Kitab Ratapan berisi lima syair duka yang ditulis setelah orang Babel menghancurkan Yerusalem dan membakar Bait Allah (2 Raja-raja 25:8–10). Pasal 3 disusun sebagai akrostik: keenam puluh enam ayatnya mengikuti urutan abjad Ibrani, tiga ayat untuk setiap huruf, seolah-olah duka itu dijalani huruf demi huruf, dari awal sampai akhir. Selama dua puluh ayat, penulisnya menggambarkan dirinya hancur dan terkurung, bahkan berkata bahwa kekuatan dan harapannya kepada TUHAN telah lenyap (3:18). Lalu, tanpa ada yang berubah di sekelilingnya, ia mulai mengingat hal yang lain.
Untuk hari ini
Harapan dalam perikop ini bukan perasaan yang tiba-tiba datang. Harapan ini sengaja diingat oleh penulisnya. Kota itu masih berupa reruntuhan ketika ia mengucapkannya; tidak ada yang berubah di luar. Yang berubah adalah apa yang ia pilih untuk diingat: kasih setia TUHAN tidak pernah habis, rahmat-Nya selalu baru setiap pagi, dan TUHAN sendiri tetap menjadi bagiannya.
Hati-hati, jangan menjadikan ini akhir cerita yang bahagia. Bukan begitu. Ratapan masih berlanjut setelah ayat-ayat ini, dan kitab ini tidak ditutup dengan penyelesaian, tetapi dengan permohonan dan kekhawatiran yang belum terjawab (5:20–22). Kata-kata ini adalah pegangan di tengah duka, bukan tuntutan supaya kamu cepat-cepat melupakannya. Penulisnya menanti keselamatan dari TUHAN dengan tenang (3:26); ia tidak berpura-pura.
Mungkin kamu mengenal saat-saat sesudah bangun tidur, ketika beban itu kembali bahkan sebelum matamu terbuka penuh: tagihan di atas meja, hasil diagnosis, sisi tempat tidur yang kini kosong. Perikop ini tidak memintamu menyangkalnya. Ia memintamu mengingat satu hal lagi di sampingnya. Kamu tidak harus menjalani hari ini dengan kekuatan kemarin. Rahmat pagi ini masih baru.
Doa
Allah yang setia, ada pagi-pagi ketika beban itu kembali sebelum aku benar-benar bangun. Namun, inilah yang kuingat: kasih setia-Mu tidak pernah habis, rahmat-Mu baru lagi pagi ini. Aku tidak membutuhkan kekuatan kemarin untuk hari ini. Ketika hal-hal lain hilang, Engkaulah bagianku. Ajari aku menanti-nantikan Engkau dengan tenang, jujur tentang dukaku dan tetap berharap kepada-Mu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.
Coba hari ini
Besok pagi, sebelum membuka ponsel, tuliskan satu rahmat yang kamu terima sepanjang hari kemarin, sekecil apa pun. Jika beban yang kamu pikul sudah berlangsung berminggu-minggu, ceritakanlah hari ini kepada teman yang kamu percayai, pendeta, atau dokter.
Renungkan
Apa yang sebenarnya kamu lakukan pada pagi-pagi ketika harapan tidak datang dengan sendirinya?
Jawablah dengan jujur, di buku catatanmu atau bersama seorang teman hari ini.