Apa artinya saat itu
Bertahun-tahun sebelumnya, saudara-saudara Yusuf menjualnya sebagai budak (Kejadian 37:26–28). Di Mesir, Firaun mengangkatnya menjadi penguasa atas seluruh negeri (41:41–43), dan pada masa kelaparan ia menyelamatkan seluruh keluarganya (45:4–11; 47:11–12). Kini Yakub, ayah mereka, telah meninggal dan dikuburkan di Kanaan (50:1–14). Setelah ayah mereka tiada, saudara-saudara Yusuf takut ia akan membalas kejahatan yang dulu mereka lakukan, maka mereka mengirim pesan yang katanya berasal dari Yakub, memohon ampun. Yusuf menangis. Jawabannya merangkum seluruh kisah ini: yang mereka rancang untuk kejahatan, Allah rancang untuk kebaikan.
Untuk hari ini
Yusuf tidak berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa. Ia menyebutnya apa adanya: kalian merancang yang jahat terhadapku. Mengampuni dalam kisah ini bukan berarti mengatakan lukanya kecil. Mengampuni berarti menolak menjadi orang yang membalas. “Apakah aku ini pengganti Allah?” Yusuf menyerahkan perhitungan itu kepada satu-satunya Pribadi yang dapat menghakimi dengan benar.
Perhatikan apa yang tidak dikatakan bagian ini. Bagian ini tidak mengatakan bahwa kejahatan itu diam-diam baik, atau bahwa kekejaman saudara-saudaranya tidak apa-apa karena akhirnya berakhir baik. Yusuf juga tidak langsung memercayai mereka: sebelum menyatakan dirinya, ia lebih dulu menguji apakah mereka sudah berubah (Kejadian 42–44). Mengampuni tidak sama dengan kembali kepada orang yang masih terus menyakitimu. Kalau itu yang sedang kamu alami, bicaralah dengan seseorang yang kamu percayai dan dapat menolongmu.
Mungkin ada anggota keluargamu yang berutang permintaan maaf yang tidak pernah datang. Atau mungkin kamulah yang seperti saudara-saudara Yusuf, menunggu balasan yang kamu rasa pantas kamu terima. Bagaimanapun juga, air mata dan kata-kata lembut Yusuf menunjuk kepada hati Allah, yang lebih suka memeliharamu daripada membalasmu. Hari ini, kamu tidak perlu membalas.
Doa
Ya Allah, Engkau melihat apa yang dilakukan orang terhadapku, dan Engkau melihat apa yang telah kulakukan terhadap orang lain. Aku tidak mau lagi menyimpan hitungan. Aku bukan pengganti-Mu; kuserahkan penghakiman kembali kepada-Mu. Di mana orang merancang yang jahat, hadirkanlah kebaikan yang belum dapat kulihat. Di mana aku telah menyakiti, beri aku keberanian untuk meminta maaf. Ajari aku berbicara dengan lembut, seperti Yusuf. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.
Coba hari ini
Pikirkan satu orang yang diam-diam masih kamu hitung kesalahannya. Hari ini, tuliskan namanya, doakan dia dengan Kejadian 50:20, dan putuskan satu hal yang akan kamu berhenti lakukan untuk membalasnya.
Renungkan
Mana yang lebih sulit bagimu: mengampuni orang yang telah menyakitimu, atau percaya bahwa orang yang pernah kamu sakiti sungguh-sungguh telah mengampunimu?
Jawablah dengan jujur, di buku catatanmu atau bersama seorang teman hari ini.