Apa artinya saat itu
Di pasal-pasal terakhir 2 Korintus, Paulus menjawab para saingannya di Korintus yang membanggakan kelebihan mereka dan memandang rendah dirinya (10:10; 11:5). Dengan berat hati ia pun “berbangga”, tetapi atas pukulan, kapal karam, dan malam-malam tanpa tidur yang ia alami (11:23–29), lalu atas suatu penglihatan empat belas tahun sebelumnya, ketika ia diangkat ke Firdaus (12:1–4). Kemudian ia bercerita tentang “sebuah duri” yang diberikan dalam dagingnya. Ia tidak pernah menyebutkan apa itu; ada yang menduga penyakit, gangguan mata, atau perlawanan yang terus-menerus. Tiga kali ia memohon kepada Tuhan agar duri itu diambil. Jawaban Tuhan bukan menyingkirkannya, melainkan anugerah.
Untuk hari ini
Paulus berdoa seperti kamu berdoa. Tiga kali ia meminta agar duri itu pergi, dan meminta tiga kali bukan tanda kurang iman; itu doa orang yang sungguh-sungguh. Jawabannya: tidak. Bukan “belum”, bukan “berusahalah lebih keras”, melainkan pemberian yang lain: “Anugerah-Ku cukup bagimu.”
Perhatikan apa yang tidak dikatakan bagian ini. Bagian ini tidak berkata bahwa rasa sakit itu baik, bahwa kamu harus berpura-pura menikmatinya, atau bahwa meminta kesembuhan itu salah. Paulus sendiri meminta. Yang dikatakannya lebih sulit sekaligus lebih indah: kuasa Kristus diam pada orang yang masih lemah, bukan hanya pada orang yang sudah dipulihkan. Paulus tidak menyembunyikan durinya; ia malah memilih “berbangga” atasnya, karena justru di situlah kekuatan Kristus tampak.
Mungkin kamu punya duri yang bertahan lebih lama daripada doa-doamu: tubuh yang tak kunjung sembuh, amarah yang terus meledak, kesedihan yang kembali setiap malam. Kamu boleh terus meminta. Tetapi hari ini kamu juga bisa berhenti menunggu kuat dulu baru menjalani hidup. Anugerah diberikan untuk hari ini, sementara duri itu masih ada.
Doa
Tuhan Yesus, Engkau tahu duri yang kumohon agar Kauambil, dan berapa kali aku sudah memohon. Aku tidak mengerti semua jawaban-Mu, tetapi aku mendengar Engkau berkata anugerah-Mu cukup. Biarlah kuasa-Mu diam padaku di tempat aku lemah. Jagalah aku agar tidak menyembunyikan kelemahanku, dan tidak berbangga atas apa pun selain Engkau. Berilah aku anugerah untuk hari ini, sementara duri itu masih ada. Dalam nama-Mu aku berdoa. Amin.
Coba hari ini
Tuliskan satu kelemahan yang biasanya kamu sembunyikan, lalu ceritakan kepada satu orang yang kamu percayai hari ini, saat makan bersama atau lewat pesan. Kemudian bacalah 2 Korintus 12:9 dengan suara keras.
Renungkan
Jujur saja: kamu lebih ingin Tuhan mengambil durimu, atau memberimu anugerah untuk menanggungnya, dan mengapa?
Jawablah dengan jujur, di buku catatanmu atau bersama seorang teman hari ini.