Apa artinya saat itu
Mazmur 121 adalah salah satu dari lima belas Nyanyian Ziarah (Mazmur 120–134), yang umumnya dipahami sebagai nyanyian para peziarah yang naik ke Yerusalem untuk merayakan hari raya, melewati jalan yang mendaki di daerah perbukitan. Pemazmur memandang bukit-bukit dan bertanya dari mana pertolongannya datang, lalu menjawab: dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi (121:1–2). Mulai ayat 3, suaranya beralih kepada “kamu”, seakan-akan ada orang lain yang menjawabnya. Sesudah itu, satu kata Ibrani yang berarti “menjaga” muncul enam kali, dan dalam terjemahan ini keenamnya memakai kata “jaga”.
Untuk hari ini
Mazmur ini dimulai dengan pertanyaan, dan itu patut diperhatikan. Pemazmur tidak berpura-pura bahwa perjalanannya mudah. Ia memandang bukit-bukit di depannya dan bertanya dengan jujur dari mana pertolongannya akan datang. Iman boleh dimulai dari sana. Jawabannya tidak menyingkirkan bukit-bukit itu, tetapi menunjuk melampauinya, kepada Dia yang menjadikannya.
Ini bukan janji bahwa tidak akan pernah ada yang salah. Para peziarah yang menyanyikannya tetap berjalan di jalan yang panas dan berbatu, dan orang-orang yang mendoakannya hari ini tetap bisa menerima diagnosis yang berat atau telepon di tengah malam. Yang dijanjikan mazmur ini adalah bahwa kamu tidak pernah luput dari penjagaan-Nya. TUHAN menjaga kakimu, menaungimu dari terik, menjaga kepergian dan kedatanganmu, dan pada akhirnya menjaga jiwamu (121:7–8).
Bayangkan kamu masih terjaga pukul tiga pagi, memutar ulang urusan besok seakan-akan dengan tetap terjaga kamu bisa menahan segalanya agar tidak runtuh. Kamu tidak sanggup menjaga dirimu sendiri, dan memang tidak pernah dimaksudkan begitu. Penjagamu tidak terkantuk. Apa pun yang belum selesai malam ini tidak luput dari pengawasan-Nya. Karena Ia tetap terjaga, kamu boleh memejamkan mata.
Doa
Allah, Pencipta langit dan bumi, aku mengangkat mataku, dan aku mau jujur: aku tidak selalu tahu dari mana pertolonganku datang. Terima kasih karena Engkau tidak pernah terlelap, tidak malam ini, tidak juga di perjalanan esok hari. Jagalah kakiku supaya tidak goyah. Jadilah naunganku ketika hari terasa terik, dan jagalah kepergianku dan kedatanganku. Ketika aku tidak sanggup memegang semuanya, biarlah aku beristirahat, sebab Engkau tetap terjaga. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.
Coba hari ini
Malam ini, sebelum tidur, sebutkan kepada Tuhan satu kekhawatiran yang biasanya kamu bawa ke tempat tidur, bacalah Mazmur 121:3–4, lalu letakkan ponselmu jauh dari jangkauan.
Renungkan
Apa yang membuatmu terjaga di malam hari: hal-hal yang mungkin salah, atau perasaan bahwa semuanya bergantung padamu?
Jawablah dengan jujur, di buku catatanmu atau bersama seorang teman hari ini.