Apa artinya saat itu
Paulus menulis kepada orang-orang percaya di Roma, jemaat yang belum pernah ia kunjungi (Roma 1:10–13), dan ia tahu penderitaan itu nyata (8:17–18). Pasal 8 dibuka dengan kabar bahwa tidak ada lagi penghukuman (8:1). Kini ia merangkum seluruh uraiannya dalam serangkaian pertanyaan seperti di ruang sidang: siapa yang akan mendakwa, siapa yang akan menghukum, siapa yang akan memisahkan? Daftarnya bukan teori. Ia mengutip Mazmur 44 tentang umat Allah yang dibunuh demi Dia (8:36), dan dalam suratnya yang lain ia menyebut pukulan, kelaparan, dan bahaya yang dialaminya sendiri (2 Korintus 11:23–27). Setiap pertanyaan mendapat jawaban yang sama: tidak seorang pun, tidak ada apa pun.
Untuk hari ini
Malam ini di banyak tempat orang bermain-main dengan rasa takut: hantu, tengkorak, bunyi aneh dalam gelap. Sebagian orang tidak sedang bermain. Mereka takut mati, takut mendengar kata dokter, takut pada kuasa yang tak terlihat, atau takut pada masa lalu yang terus mendakwa. Hari ini banyak orang Protestan juga memperingati Hari Reformasi, dan penghiburan besar Luther datang dari surat yang sama: Allahlah yang membenarkan. Paulus menjawab keduanya sekaligus: takut akan hari depan dan takut akan masa lalu.
Perhatikan apa yang tidak dikatakan Paulus. Ia tidak berkata semua itu tidak akan pernah terjadi. Penindasan, kelaparan, dan pedang tetap ada dalam daftarnya. Dikasihi Allah bukan perisai terhadap hari-hari yang berat. Yang ia katakan berbeda: tidak satu pun dari semua itu dapat memisahkanmu dari kasih Allah. Kabar buruk dari dokter tidak bisa. Kesalahan yang kamu lakukan bertahun-tahun lalu tidak bisa. Kematian tidak bisa, begitu pula kuasa apa pun yang kamu takuti.
Jadi, ketika rasa takut atau rasa malu mulai berbicara pada pukul tiga dini hari, tanyakanlah apa yang ditanyakan Paulus: siapakah yang akan menghukum? Jawabannya adalah satu Pribadi. Yesus telah mati, telah dibangkitkan, dan sekarang bersyafaat bagimu (8:34). Dia yang paling berhak menghukummu justru berada di pihakmu. Mungkin malam ini kamu masih merasa takut. Perasaan bukanlah putusan hakim. Matikan lampu; kamu tetap dipegang-Nya.
Doa
Bapa, Engkau tidak menyayangkan Anak-Mu sendiri, maka tolonglah aku memercayai hati-Mu malam ini. Engkau tahu apa yang kutakuti dan apa yang masih mendakwaku. Ketika masa laluku bangkit menuduhku, biarlah kudengar bahwa Engkaulah yang membenarkan. Ketika kematian, kegelapan, atau hari esok menakutkanku, ingatkan aku bahwa Yesus bersyafaat bagiku. Peganglah aku erat dalam kasih-Mu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.
Coba hari ini
Tuliskan ketakutan atau tuduhan yang paling sering datang pada malam hari. Di bawahnya, salinlah Roma 8:39, lalu bacalah dengan suara keras sebelum kamu mematikan lampu malam ini.
Renungkan
Mana yang lebih keras terdengar pada malam hari: rasa takut akan apa yang mungkin terjadi, atau suara yang mendakwamu atas apa yang sudah kamu lakukan?
Jawablah dengan jujur, di buku catatanmu atau bersama seorang teman hari ini.