Apa artinya saat itu
Judul Mazmur 62 menyebutnya mazmur Daud, dan pemazmur sedang berada di bawah tekanan. Orang-orang berusaha menjatuhkan dia dari kedudukannya yang tinggi, seolah-olah ia dinding miring yang hampir roboh; mulut mereka memberkati, tetapi hati mereka mengutuk (Mazmur 62:3–4). Ia tidak membalas dengan bersiasat. Ia menyebut Allah gunung batunya, keselamatannya, dan tempat perlindungannya yang tinggi. Lalu ia berpaling dari dirinya sendiri kepada seluruh umat: percayalah kepada Allah setiap saat, curahkan isi hatimu di hadapan-Nya, dan jangan biarkan hatimu melekat pada harta atau hasil rampasan (62:8–10).
Untuk hari ini
Mazmur ini menyatukan dua hal yang biasanya kita pisahkan. “Hanya pada Allah jiwaku tenang” terdengar seperti ketenangan, bahkan keheningan. Tiga ayat kemudian datang sesuatu yang tampak berlawanan: “curahkan isi hatimu di hadapan-Nya”. Ternyata, percaya dengan tenang tidak sama dengan diam saja tentang apa yang menyakitkan. Kamu menjadi tenang dengan mencurahkan hatimu di hadapan Allah, bukan dengan memendamnya.
Perhatikan juga bahwa ayat 5–6 hampir mengulang baris-baris pembuka mazmur ini (62:1–2). Orang mengulang sesuatu kepada dirinya sendiri ketika ia perlu mendengarnya lagi. Tekanan itu pun belum hilang; orang-orang yang ingin menjatuhkannya masih ada (62:3–4). Mazmur ini tidak memintamu berpura-pura tidak goyah. Mazmur ini memperlihatkan seseorang yang mengucapkan kebenaran tentang Allah berulang-ulang, sampai jiwanya dapat bersandar padanya.
Bayangkan seorang anak pulang sekolah dan menumpahkan seluruh isi tasnya di meja makan: kertas tugas yang kusut, pensil yang patah, surat dari guru yang takut ia tunjukkan kepadamu. Tidak ada yang dipilah dulu. Seperti itulah mencurahkan isi hati. Allah adalah tempat perlindungan yang cukup besar untuk semua kekacauan itu. Kamu tidak perlu merapikan hatimu dulu sebelum membawanya kepada-Nya.
Doa
Allah, gunung batu dan tempat perlindunganku, aku datang dengan hati yang belum tenang. Engkau tahu suara-suara yang mendesakku dan ketakutan yang terus kusimpan rapat-rapat. Inilah semuanya, belum dipilah dan belum dirapikan. Jadilah bentengku selama aku menanti, dan ajarlah jiwaku tenang hanya di dalam Engkau. Ketika aku goyah, teguhkanlah aku; pengharapanku datang dari-Mu. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.
Coba hari ini
Carilah sepuluh menit sendirian hari ini, di mobil, sambil berjalan kaki, atau sebelum tidur, lalu ceritakan kepada Allah semua yang membebanimu, dengan suara keras atau di atas kertas, tanpa merapikan kata-katanya. Sesudah itu, bacalah Mazmur 62:5–8 perlahan-lahan.
Renungkan
Apa yang paling sulit kamu curahkan di hadapan Allah: kemarahanmu, ketakutanmu, atau kekecewaanmu kepada-Nya?
Jawablah dengan jujur, di buku catatanmu atau bersama seorang teman hari ini.