Apa artinya saat itu
Paulus menulis kepada orang-orang percaya di Roma, jemaat yang terdiri dari orang Yahudi dan bukan Yahudi, yang tidak selalu sepakat. Di pasal 14 ia membahas perselisihan mereka soal makanan dan hari-hari tertentu: ada yang makan segala sesuatu, ada yang hanya makan sayur; ada yang menganggap satu hari lebih penting, ada yang menganggap semua hari sama (Roma 14:1–6). Paulus menyebut yang lebih berhati-hati sebagai yang lemah dan yang lebih bebas sebagai yang kuat, lalu menggolongkan dirinya dengan yang kuat (15:1). Namun, yang kuat tidak disuruh memenangkan perdebatan. Mereka disuruh menanggung yang lemah, mengikuti teladan Kristus, dan saling menerima seperti Kristus telah menerima mereka (15:7).
Untuk hari ini
Pada zaman Paulus, sama seperti sekarang, menjadi kuat biasanya berarti bisa memaksakan kehendak. Paulus membaliknya. Kalau kamu orang yang lebih teguh, lebih bebas, lebih yakin akan apa yang kamu percayai, kekuatanmu bukan piala. Kekuatan itu kewajiban: kamu “wajib menanggung” mereka yang belum sampai di sana.
Perhatikan apa yang tidak dimaksudkan di sini. Ini bukan soal menyenangkan semua orang. Paulus berkata agar kita menyenangkan sesama “demi kebaikannya untuk membangun rohaninya” (15:2); itu berbeda dengan membuat semua orang nyaman atau tidak pernah mengatakan hal yang sulit. Paulus juga tidak berpura-pura bahwa yang kuat itu keliru; ia sendiri termasuk di antara mereka. Persoalannya bukan siapa yang menang berdebat, melainkan siapa yang ditanggung. Kristus sendiri tidak menyenangkan diri-Nya; Ia menanggung hinaan yang sebenarnya ditujukan kepada Allah (15:3).
Bayangkan memindahkan sofa menaiki tangga yang sempit. Teman yang lebih kuat mengangkat ujung yang berat, berjalan mundur, dan menyesuaikan langkah dengan temannya. Tidak ada yang menyebut itu kelemahan. Hari ini ada orang di dekatmu yang kesulitan memikul bagiannya: orang yang baru percaya dan penuh pertanyaan, orang tua yang kelelahan, rekan kerja yang terus tertinggal. Kekuatan apa pun yang kamu miliki diberikan juga untuk mereka.
Doa
Allah sumber kesabaran dan penghiburan, Engkau telah sabar terhadapku ketika akulah yang lemah. Ampuni aku karena memakai apa yang kutahu untuk memenangkan perdebatan, bukan untuk menanggung sesama. Buatlah aku kuat seperti Kristus, rela mengangkat ujung yang lebih berat dan berjalan mengikuti langkah orang lain. Pakailah aku untuk membangun orang-orang di sekitarku, dan biarlah kami hidup sehati satu sama lain. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.
Coba hari ini
Pikirkan satu orang yang sedang kesulitan mengikuti, entah di rumah, di tempat kerja, atau di gereja. Tanyakan kepadanya hari ini bantuan seperti apa yang benar-benar berguna baginya, lalu lakukan satu hal itu.
Renungkan
Ketika kamu menjadi pihak yang “kuat”, mana yang lebih sulit kamu lepaskan: kebebasanmu, atau keinginan untuk selalu benar?
Jawablah dengan jujur, di buku catatanmu atau bersama seorang teman hari ini.